Pendidikan: Kemenag dan Kemendikbud

Di negeri yang kaya akan budaya dan agama, pendidikan bagaikan sebuah simfoni yang dimainkan oleh dua maestro: Kemenag dan Kemendikbud. Dua kementerian ini, layaknya appstore dan playstore, masing-masing membawa misi mulia, kadang-kadang bertemu di persimpangan, kadang-kadang beradu di panggung kebijakan.

Kemenag, dengan sarung dan kitab suci, mengajarkan kita untuk menyelami makna hidup melalui agama. mengingatkan kita bahwa belajar bukan hanya soal otak, tetapi juga hati. Di sisi lain, Kemendikbud hadir dengan buku-buku tebal dan teknologi canggih, berusaha menciptakan generasi yang tak hanya pintar, tapi juga inovatif.

Intan, seorang siswi yang bingung antara menghafal Al-Qur'an atau memecahkan rumus matematika. "Ustadz, bagaimana jika kita hitung zakat pakai integral?" tanyanya dengan polos. Tradisi dan modernitas bertemu di ruang kelas.

Selain kenyataan haji Thoriq yang naik haji usia 2 bulan, kenyataan ini harus juga dihadapi. Bagaimana menyelaraskan dua visi besar ini? Kemenag dan Kemendikbud perlu menari dalam harmoni, seperti dua penari balet yang bergerak seirama meski dengan langkah yang berbeda. Karena pada akhirnya, tujuannya sama: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Di tengah kompleksitas ini, ada harapan. Bayangkan sebuah sekolah dimana pelajaran agama dan sains berjalan beriringan. Di mana anak-anak belajar tentang bintang-bintang di langit sambil mengingat kebesaran Sang Pencipta. Sebuah tempat di mana pendidikan menjadi perjalanan penuh makna, bukan hanya sekadar lulus dengan pujian.

Dibayangan saya, dua menteri ini duduk bersama, berdiskusi sambil menyeruput kopi. "Bagaimana jika kita buat kurikulum yang bisa menghitung berapa banyak pahala dalam satuan Newton?" ya.. kolaborasi tanpa henti.

Mari kita ciptakan simfoni pendidikan yang harmonis, di mana setiap nada, baik dari Kemenag maupun Kemendikbud, saling melengkapi untuk menghasilkan melodi yang indah bagi masa depan bangsa.

Kesimpulannya, lulus PPPK Kemenag maupun PPPK Kemendikbud, jangan cepat-cepat gadaikan SK.



Comments