Kali ini kita bahas tentang Live joget di TikTok, konten kreator yang menerima saweran dari penonton yang katanya sebagai bentuk apresiasi. Namun, di balik hiburan, ada perdebatan mengenai nilai etis dan dampak sosial dari fenomena ini.
Para pendukung tren ini berargumen bahwa saweran di TikTok tidak jauh berbeda dengan membeli tiket konser atau menghadiahi seniman jalanan. Konten kreator, layaknya artis di panggung, memberikan hiburan dan interaksi yang dapat dinikmati oleh penonton. Di dunia yang serba digital, wajar jika bentuk apresiasi juga bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih virtual.
Disisi lain, ada kekhawatiran yang muncul. Beberapa konten kreator telah menunjukkan adanya eksploitasi, seperti memanfaatkan orang tua atau bahkan penyandang disabilitas untuk menarik perhatian dan saweran. Ini bukan lagi soal hiburan, tapi mengarah kepada tindakan mengemis yang terselubung dalam kemasan modern. Sebut saja joget sadbor, jhopong dan beberapa sebutan sejenisnya, beberapa kesempatan saya melihat sikreator bahkan berguling ditanah karena disawer 3 paus dan 200 donat. kekhawatiran muncul mengenai etika dan dampak psikologis baik bagi kreator maupun penontonnya.
Tanpa sedikitpun merendahkan kreator, sebagai masyarakat yang semakin terhubung secara digital, penting untuk mempertimbangkan bagaimana teknologi memengaruhi norma-norma sosial kita. Apakah hiburan semacam ini mendorong kreativitas atau justru merendahkan? Bagaimana kita dapat membedakan antara apresiasi yang tulus dan ekspektasi yang memanfaatkan simpati?
Konten kreator joget live TikTok dengan saweran mungkin membawa kesenangan bagi sebagian orang, tetapi kita tidak bisa menutup mata terhadap potensi dampak negatifnya. Perlu adanya regulasi dan kesadaran sosial untuk memastikan bahwa bentuk hiburan ini tetap berada dalam batas-batas etika dan tidak merugikan pihak mana pun.
Setuju Pak Ketua
ReplyDeletehttps://ibnsyaus.blogspot.com/