Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Islam : Membangun Moral di Tengah Gempuran Media Sosial dan AI (Artificial Intelligence)

Oleh :
Rudi Hartono*
Promotor :
Dr. K. Muhammad Husni, M.Pd
Pendahuluan
Di era digital saat ini, perkembangan teknologi dan media sosial yang pesat telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Terlebih lagi, dengan kehadiran Kecerdasan Buatan (AI), interaksi manusia dengan informasi semakin cepat dan luas. Hal ini membawa dampak baik dan buruk, salah satunya pada perkembangan karakter generasi muda. Dalam konteks pendidikan Islam, pendidikan karakter menjadi sangat penting untuk membangun moral yang kuat di tengah gempuran informasi yang datang dari berbagai sumber, termasuk media sosial dan teknologi AI.
Tujuan utama pendidikan karakter dalam Islam adalah untuk membentuk pribadi yang memiliki akhlak mulia (moral yang baik), berlandaskan pada nilai-nilai agama dan keislaman yang diajarkan oleh Al-Qur'an dan Hadis. Namun, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menumbuhkan karakter positif tersebut di tengah perkembangan pesat media sosial dan teknologi yang sering kali mengandung nilai-nilai yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.
Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Islam
Pendidikan karakter dalam Islam tidak hanya berfokus pada pengajaran teori agama, tetapi juga bagaimana menciptakan kepribadian yang seimbang antara ilmu pengetahuan dan moralitas. Konsep ta’dib (pendidikan karakter) dalam Islam mencakup pembentukan jiwa dan akhlak yang baik, serta penerapan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Al-Qur'an, banyak ayat yang menekankan pentingnya akhlak yang baik, seperti dalam Surat Al-Ahzab ayat 21 yang berbunyi:
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..." (QS. Al-Ahzab: 21)
Pendidikan karakter Islam mengarah pada pembentukan individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat moralitasnya, dengan mencontoh perilaku Rasulullah SAW.
Pendidikan karakter dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat penting karena pendidikan bukan hanya bertujuan untuk mencetak individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk pribadi yang berakhlak mulia. Dalam Islam, pendidikan tidak terlepas dari pembentukan akhlak dan moral, karena keduanya adalah fondasi untuk membangun peradaban yang baik. Islam mengajarkan bahwa akhlak yang baik adalah salah satu kriteria penting bagi seseorang untuk dianggap beriman dan bertakwa kepada Allah.
Salah satu tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah membentuk pribadi yang memiliki kesadaran akan nilai-nilai moral dan etika yang sesuai dengan ajaran agama. Dalam hal ini, pendidikan karakter sangat relevan, mengingat karakter yang baik menjadi penentu dalam interaksi sosial, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Pendidikan karakter dalam Islam tidak hanya diajarkan melalui teori, tetapi juga melalui teladan yang diberikan oleh para guru, orang tua, dan masyarakat sekitar.
Pendidikan karakter dalam Islam menekankan pada pembentukan nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, keikhlasan, rasa empati, dan kasih sayang. Karakter-karakter ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hubungan antarindividu, masyarakat, maupun dalam menjaga hubungan dengan Tuhan. Menggunakan pendekatan yang berlandaskan pada Al-Qur'an dan Hadis, pendidikan karakter ini juga mengajarkan individu untuk selalu menahan diri dari perilaku negatif yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.
Peran Pendidikan Islam dalam Menanggulangi Dampak Negatif Media Sosial dan AI
Islam memberikan pedoman yang jelas terkait dengan perilaku manusia dalam masyarakat dan penggunaan teknologi. Beberapa langkah yang dapat diambil dalam pendidikan Islam untuk menangani dampak negatif ini adalah:
- Pendidikan Akhlak yang Berkesinambungan: Pendidikan Islam harus menekankan pada pembentukan karakter dan akhlak yang baik melalui pembelajaran agama yang mendalam. Pengenalan nilai-nilai akhlak yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis dapat memberikan panduan dalam menyaring informasi yang ada di dunia maya.
- Literasi Digital Berbasis Islam: Mengajarkan literasi digital yang tidak hanya mengajarkan keterampilan teknologi, tetapi juga memberikan pemahaman etika digital menurut perspektif Islam. Hal ini dapat membantu pelajar untuk menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.
- Pembinaan Keterampilan Sosial di Dunia Nyata: Mendorong siswa untuk tetap menjaga keseimbangan antara interaksi dunia maya dan dunia nyata. Pendidikan Islam mendorong pertemuan sosial yang sehat, membangun toleransi, dan empati antar sesama.
- Penggunaan Teknologi Positif: Memanfaatkan teknologi dan AI dalam mendukung proses pembelajaran yang mendidik dan menumbuhkan karakter, seperti aplikasi yang mengajarkan nilai-nilai moral, pembelajaran Al-Qur'an, dan interaksi positif lainnya.
Tantangan Media Sosial dan AI dalam Pendidikan Karakter dan Moral
Di era digital saat ini, tantangan terbesar dalam pendidikan karakter dan moral adalah pengaruh kuat media sosial dan teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI). Media sosial, dengan berbagai platformnya, menyediakan ruang komunikasi yang sangat luas dan cepat, tetapi juga membawa dampak negatif bagi pembentukan karakter. Pengaruh media sosial dapat membentuk pola pikir yang lebih materialistik, individualistik, dan bahkan merusak moralitas. Penyebaran informasi yang tidak terfilter dengan baik, penyebaran konten negatif, serta fenomena hoaks dapat mempengaruhi pola pikir dan perilaku generasi muda, yang pada akhirnya dapat merusak moral mereka.
Selain itu, banyak anak muda yang terpapar pada standar kecantikan dan gaya hidup yang tidak realistis yang sering disebarkan oleh influencer di media sosial. Ini dapat menumbuhkan rasa rendah diri atau kecemasan sosial, serta menjauhkan mereka dari nilai-nilai spiritual dan moral yang seharusnya diajarkan dalam pendidikan Islam.
Teknologi kecerdasan buatan (AI) juga turut menambah tantangan dalam pendidikan karakter. Sebagai contoh, perkembangan AI dalam bentuk aplikasi pendidikan dapat mempercepat proses pembelajaran, namun seringkali juga menekankan efisiensi dan pencapaian akademik, tanpa memerhatikan perkembangan karakter dan nilai-nilai moral. Selain itu, AI dapat mengarahkan individu pada perilaku yang cenderung tergantung pada teknologi, sehingga mengurangi interaksi sosial yang sesungguhnya dan melemahkan keterampilan empati, komunikasi, dan pengendalian diri.
Namun, di sisi lain, media sosial dan teknologi AI juga memiliki potensi positif jika digunakan secara bijak. Media sosial bisa menjadi sarana untuk menyebarkan nilai-nilai positif, informasi yang mendidik, serta kampanye moral yang bisa membentuk karakter yang baik. Begitu juga dengan AI, yang jika dimanfaatkan untuk tujuan pendidikan yang benar, bisa digunakan untuk memperkenalkan karakter-karakter mulia dalam ajaran Islam melalui konten yang relevan dan bermanfaat.
Sebagai contoh, program berbasis AI yang mengintegrasikan pengajaran tentang nilai-nilai agama dan karakter dapat menjadi solusi untuk menyeimbangkan tantangan ini. Melalui platform digital, para siswa dapat dihadapkan pada pembelajaran interaktif yang mengajarkan akhlak, empati, dan ketahanan moral.
Kesimpulan
Pendidikan karakter dalam Islam memegang peranan yang sangat vital dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berbudi pekerti luhur. Prinsip-prinsip moral yang diajarkan dalam ajaran Islam, seperti kejujuran, kedisiplinan, rasa tanggung jawab, dan empati, harus dijadikan pondasi dalam pembentukan karakter seseorang. Dalam dunia yang semakin terhubung melalui media sosial dan kemajuan teknologi seperti AI, tantangan dalam membentuk moralitas dan karakter semakin kompleks. Pengaruh negatif dari media sosial dan kecanggihan teknologi yang berkembang pesat seringkali membawa dampak buruk terhadap pembentukan karakter, seperti perilaku individualis, perundungan, dan penyebaran informasi yang salah. Oleh karena itu, penting bagi pendidikan Islam untuk mengintegrasikan nilai-nilai moral dalam kurikulum dan kegiatan belajar mengajar yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.
Dalam menghadapi tantangan ini, peran keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi semakin krusial. Pendidikan karakter dalam Islam harus diinternalisasi dalam setiap aspek kehidupan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Mengajarkan generasi muda untuk bijak dalam menggunakan teknologi dan media sosial, serta memahami batasan-batasan moral yang diajarkan dalam Islam, adalah langkah penting untuk menjaga integritas dan kualitas karakter. Dengan demikian, pendidikan karakter dalam konteks Islam haruslah tetap relevan dan adaptif dengan perkembangan zaman, agar dapat menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan informasi.
Referensi :
- Al-Qur'an Surah Al-Ahzab (33:21).
- Quraish Shihab, M. (2008). Islamic Education and Character Building. Jakarta: Mizan.
- Abdul Wahid, S. (2017). Character Education in Islam. Journal of Educational Research and Practice, 7(1), 45-55.
- Nur, A. (2019). Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam: Implementasi dalam Dunia Pendidikan. Jurnal Pendidikan Islam, 8(2), 132-145.
- Hasbullah, M. (2015). Pendidikan Karakter dalam Islam: Konsep dan Implementasinya dalam Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.
- Zainuddin, M. (2016). Tantangan Pendidikan Karakter di Era Digital: Integrasi Pendidikan Islam dan Teknologi. Journal of Islamic Education and Digital Literacy, 5(3), 78-89.
- Supriyono, H. (2020). Pendidikan Karakter di Tengah Gempuran Media Sosial dan Kecerdasan Buatan (AI). Jurnal Ilmu Pendidikan, 10(4), 103-115.
Comments
Post a Comment