Manajemen Pendidikan Karakter Dalam Mewujudkan Generasi Berakhlakul Karimah di MTs Al-Madani Pontianak


Subairi
Foto : Subairi

Penulis : Subairi*

Promotor : Dr. Muhammad Husni, M.Pd
*Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Al-Qolam Malang

A.   PENDAHULUAN


Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sedangkan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.


Abad 21 merupakan tantangan besar yang menuntut respon tepat dan menyeluruh terhadap pendidikan Islam. Pendidikan merupakan wahana yang sangat strategis dan efektif dalam menciptakan manusia-manusia berkualitas dan berkepribadian. Pribadi- pribadi yang berkualitas inilah yang mampu melakukan perubahan-perubahan positif. Selama ini pembelajaran di madrasah atau sekolah lebih banyak menekan pada pencapaian kemampuan atau keahlian bidang keilmuannya (hard skills), sedang aspek afektif (soft skills) hanyalah sebagai sisipan apabila guru yang bersangkutan menyadari pentingnya aspek ini. Kegiatan di sekolah perlu pembiasaan- pembiasaan. Salah satunya adalah pembiasaan untuk melakukan salat berjama’ah zuhur di sekolah dan lain sebagainya. Harapannya dengan kegiatan ini mampu membentuk perilaku mulia, terbangun 18 karakter siswa. Terbentuknya karakter yang baik bagi siswanya. 


Pendidikan Islam secara ideal seharusnya menciptakan manusia yang unggul secara intelektual, kaya dalam kebijakan, visioner, anggun dalam moral dan akhlak serta harus mampu survive di tengah persaingan global yang semakin tajam, bahkan harus mampu tampil ke depan, mampu berkompetisi, berwatak dinamis memiliki kreativitas bermutu serta mampu memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat.


Pendidikan yang berkualitas niscaya menuntut biaya yang tergolong mahal/tinggi. Hal ini harus menjadi pertimbangan bagi pengelola, hubunganya dengan desentralisasi pendidikan. Untuk mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas tentunya membutuhkan pengelola dengan sumber daya manusia yang berkualitas serta manajemen kepemimpinan yang berkualitas pula. SDM merupakan pelaku utama dalam organisasi. Karenanya harus memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan.


Buku Putih Komisi Eropa tentang Growth, Competition and Employment, menjelaskan bahwa dalam menghadapi tantangan abad 21 adalah amat penting melakukan upaya secara besar-besaran di bidang pendidikan, khususnya pelatihan untuk membelajarkan masyarakat supaya memiliki kemampuan bersaing dalam era globalisasi melalui penguasaan pengetahuan dan keterampilan baru sesuai dengan kebutuhan masyarakat, bangsa dan kehidupan global. Karenanya SDM dituntut untuk memperkaya pengetahuan dan keilmuanya melalui pendidikan dan pelatihan. Selain itu dituntut memiliki krakter yang baik. Untuk itu madrasah sebagai Lembaga Pendidikan Islam harus mempersiapkan diri, mampu mencetak anak-anak yang memiliki pengetahuan luas dan berkarakter mulia.


Berdasarkan hasil hasil pengamatan dalam seiap kegiaan belajar mengajar bahwa gambaran tentang MTs Al-Madani. Madrasah ini termasuk madrasah favorit pilihan masyarakat. Selain memperoleh akreditasi “A” secara akademik nilai rata- rata peserta didik yang masuk ke madrasah ini tergolong tinggi. Posisi madrasah juga sangat strategis, tepat diperbatasan antara kota Pontianak dan Kubu Raya. Sarana prasarana madrasah meskipun belum sempurna namun sudah cukup representatif dalam mendukung proses belajar anak. Melihat hal itu di satu sisi terdapat kemudahan berbagai akses, disisi lain perlu dibangun pendidikan karakter yang baik sehingga mampu membentuk generasi yang berakhlakul karimah. Di MTs Al-Madani sudah dilakukan pendidikan karakter, namun demikian masih butuh optimalisasi dan penambahan kuantitas program. Dengan melihat visi madrasah yaitu “mewujudkan lulusan yang cerdas, santun, taqwa, inovatif, kompetitif, berprestasi, peduli dan berbudaya lingkungan” sudah tercermin bahwa sekolah ini memperhatikan pendidikan karakter anak. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan mini research mengenai Manajemen Pendidikan Karakter dalam Mewujudkan Generasi Berakhlakul Karimah di madrasah tersebut. 


B. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


1. Penanaman Nilai-Nilai dan Moralitas dalam Mewujudkan Generasi Berakhlakul Karimah di MTs Al-Madani


Penanaman nilai-nilai karakter merupakan tahapan yang sangat penting dalam program pendidikan karakter. Hasil dari pembahasan mengenai nilai-nilai karakter, nantinya dijadikan sebagai arahan dalam proses penanaman karakter pada peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan dari pendidikan karakter yang diinginkan. 


Penanaman nilai-nilai dan moralitas dalam mewujudkan generasi berakhlakul karimah di MTs Al-Madani. dilakukan oleh kepala madrasah, guru dan tenaga kependidikan madrasah. Guru mengintegrasikan karakter melalui RPP pembelajaran dan melalui kegiatan ektra kurikuler madrasah, pemberian motivasi. Penanaman karakter pada peserta didik MTs Al-Madani, selain melalui kegiatan pembiasaan, keteladanan, dan pembinaan,juga diintegrasikan kedalam kegiatan pembelajaran seluruh muatan pelajaran. Setiap rencana pelaksanaan pembelajaran yang disusun oleh setiap guru harus mengintegrasikan nilai-nilai karakter tersebut didalamnya.


Hal tersebut senada dengan pendapat Darmiyati Zuchdi (2015:87), bahwa pendidikan karakter di madrasah yang dilaksanakan melalui berbagai program. Ada banyak nilai karakter atau akhlak mulia yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari- hari. Penetapan nilai-nilai karakter yang positif yang akan ditanamkan bisa dilakukan melalui rapat bersama dengan komite madrasah dan pihak Yayasan, sehingga nilai-nilai yang akan dikembangkan benar-benar bisa dijadikan sebagai pedoman bagi para guru dan warga madrasah lainya dalam membangun karakter peserta didik secara efektif dan efesien.

 

2. Pemodelan Nilai-Nilai dan Moralitas Dalam Mewujudkan Generasi Berakhlakul Karimah di MTs Al-Madani


Model pengajaran merupakan gambaran suatu lingkungan pembelajaran. Didalamnya tercakup perilaku guru dan siswa pada saat model tersebut diterapkan. Model pendidikan nilai moral yang dapat dilaksanakan di MTs Al-Madani berbeda antara guru yang satu dengan yang lain, tetapi juga ada yang sama. Pada intinya model-model tersebut adalah cara untuk mengatasi masalah dalam Pendidikan karakter dan untuk mencapai pendidikan karakter.


Pernyataan tersebut di atas sesuai dengan pendapat Darmiyati Zuchdi, yang menyatakan bahwa perbedaan gaya mengajar sebetulnya disebabkan oleh penggunaan model pengajaran yang berbeda. Demikian pula persamaan gaya mengajar juga disebabkan oleh penggunaan model pengajaran yang sama. Tentang Pemodelan Nilai-Nilai dan Moralitas Dalam Mewujudkan Generasi Berakhlakul Karimah kepala sekolah semua guru dan tenaga kependidikan serta orang tua menyadari bahwa perilakunya menjadi model bagi anak didiknya. Peserta didik tidak mengambil model perilaku dari tokoh atau artis. Oleh karena itu semua warga sekolah senantiasa berhati hati dalam bertingkah laku dan bertutur kata dihadapan peserta didik di madrasah.


Dalam pendidikan nilai dan spiritualitas, pemodelan atau pemberian teladan merupakan strategi yang biasa digunakan. Pemodelan penting dalam memberikan pembelajaran kepada siswa tanpa harus melalui banyak nasihat. Melalui pemodelan, peserta didik benar-benar mampu melihat dan merasakan pengalaman yang menjadikannya terbiasa dengan hal-hal yang baik di lingkungan sekitarnya. Untuk dapat menggunakan strategi ini, ada dua syarat yang harus dipenuhi. Pertama, guru atau orang tua harus berperan sebagai model yang baik bagi peserta didiknya. Kedua, anak- anak harus meneladani orang-orang yang berakhlak mulia.


3. Memfasilitasi nilai-nilai dan moralitas dalam mewujudkan generasi berakhlakul karimah di MTs Al-Madani


Dalam mewujudkan generasi berakhlakul karimah di MTs Al-Madani tentunya sekolah harus memfasilitasi nilai-nilai dan moralitas dalam mewujudkan generasi berakhlakul karimah hal yang dilakukan ialah dengan peserta didik diberikan kesempatan untuk mengatasi masalah berkaitan dengan kegiatan sekoalah. Ketika terjadi masalah yang berkaitan denga kegiatan sekolah peserta didik diberikan kesempatan untuk mengatasinya dengan baik dengan melalukan diskusi bersama.


Selain itu guru mendengarkan dengan sungguh sungguh keluhan, saran, uneg- uneg peserta didik. Guru mendengarkan dengan baik keluhan peserta didiknya. Guru harus memahami pikiran, perasaan peserta didik. Hal ini dilakukan dengan menyelami karakter mereka.. selain itu Guru melakukan kegiatan yang melibatkan peserta didik secara langsung sehngga memiliki motivasi berkaitan dengan nilai dan moral dalam kehidupannya. Guru menyampaikan pembanding-pembanding sikap sehingga peserta didik melakukan evaluasi diri terhadap perilakunya dengan membandingkan perilakunya dengan perilaku baik dari orang lain.


4. Keterampilan untuk pengembangan nilai dan literasi moral dalam mewujudkan generasi berakhlakul karimah di MTs Al-Madani


Untuk pengembangan nilai dan literasi moral dalam mewujudkan generasi berakhlakul karimah diperlukan suatu keterampilan dengan cara berfikir kritis. Jika ada pertanyaan atau pernyataan guru tentang sesuatu hal yang menurut saudara kurang jelas peserta didik Meminta penjelasan ulang pada guru yang bersangkutan, Jika melakukan sesuatu hal maka ia berpikir tentang alasan melakukan hal tersebut. Kemudian apabila ada informasi terkait dengan kegiatan sekolah peserta didik mencari informasi agar informasi yang diterima adalah informasi yang benar kepada guru atau pihak yang terkait dengan informasi itu. 


Ketrampilan lain yang dimiliki peseerta didik dalam mengembangkan nilai dan moralitas adalah peserta didik memiliki ketrampilan berfikir kreatif., peseerta didik mampu menemukan cara baru untuk memecahkan/ menyelesaikan soal yang di sajikan guru. Dan berusaha menyelesaikannya dengan baik. Kemudian terkait dengan keaktifanmengisi tulisan atau gambar di papan majalah sebagian responden tidak aktif melakukannya. Namun dari observasi penulis. Di madrasah disediakan majalah dinding kondisinya ada dan baik. Meskipun mungkin tidak semua peserta didik terlibat langsung dalam pembuatan tulisan atau gambar di majalah dinding. Hanya peserta didik tertentu yang malakukannya sedang peserta didik lain haya membantunmya. Untuk pengembangan nilai dan literasi moral dalam mewujudkan generasi berakhlakul karimah juga diperlukan adanya Peserta didik yang memiliki ketrampilan menyimak.


Dari wawancara dengan peserta didik ketika guru menyampaikan materi pelajaran peserta didik kadang kadang berbincang-bincang dengan temannya. Namun peserta didik juga mampu membuat tulisan berdasarkan penjelasan guru, mendengarkan penjelasa guru dan melaksanakan perintahnya. Ketrampilan lain yang dimiliki peserta didik MTs Al-Madani adalah tentang ketrampilan asertif/ mengemukakan pendapat secara terbuka. Peserta didik pernah berpidato, tampil didepan umum, aktif melaksanakan diskusi terutama pada ssat pembelajaran yang menggunakan metode diskusi. Kemudian tentang ketrampilan peserta didik dalam mengatasi ancaman teman. Menurut keterangan Kurnia Primaningsih, ia tidak pernah marasa diancam oleh temannya, namun jika ada masalah dengan temannya ia membicarakanya dengan teman, atau guru tertentu. Peserta didik memiliki ketrampilan mengatasi konfliknya dengan membicarakan dengan teman secara baik-baik.

 

5. Mengembangkan program pendidikan nilai dalam mewujudkan generasi berakhlakul karimah di MTs Al-Madani


Visi, misi dan tujuan akan terwujud jika telah melaksanakan langkah Langkah strategis sebagai usaha pengembangan. Pengembangan ini bisa dalam arti kuantitas. Lebih dari itu pembangunan fasilitas-fasilitas strategis pun terus diusahakan. Terasa tidak pernah sepi peserta didik yang melalukan kegiatan di sekolah. Hasil wawancara menunjukkan bahwa visi misi dan tujuan MTs Al-Madani banyak dipahami oleh segenap komponen yang ada, mulai dari kepala sekolah guru, karyawan maupun peserta didik. Ini membuktikan bahwa sosialisasi terhadap visi misi cukup baik dan efektif, ujunya dengan pemasangan papan yang berisi visi misi ditempat yang strategis dan mudah dibaca.

 

C. KESIMPULAN


Berdasarkan analisis yang telah dipaparkan di dalam pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut; 

  1. Penanaman nilai-nilai dan moralitas dalam mewujudkan generasi berakhlakul karimah di MTs Al-Madani dilakukan oleh kepala madrasah, guru, tenaga kependidikandan seluruh warga madrasah. Guru mengintegrasikan karakter melalui RPP pembelajaran dan melalui kegiatan ektra kurikuler sekolah, pemberian motivasi. 
  2. Pemodelan Nilai-Nilai dan Moralitas dalam Mewujudkan Generasi Berakhlakul Karimah, kepala sekolah, semua guru dan tenaga kepemdidikan serta orang tua menyadari bahwa perilakunya menjadi model bagi anak didiknya. Peserta didik tidak mengambil model perilaku dari tokoh atau artis. Oleh karena itu, semua pihak baik, kepala madrasah, grur, tenaga kependidikan senantiasa berhati hati dalam bertingkah laku dan bertutur kata dihadapan Peserta didik di madrasah. 
  3. MTs Al-Madani memfasilitasi nilai-nilai dan moralitas dalam mewujudkan generasi berakhlakul karimah. Hal yang dilakukan ialah dengan peserta didik diberikan kesempatan untuk mengatasi masalah berkaitan dengan kegiatan madrasah. Kepala madrasah, guru, dan tenaga kependidikan senantiasa mendengarkan dengan sungguh-sungguh keluhan, saran, uneg-uneg peserta didik. Guru melibatkan peseta didik secara langsung sehingga berpengaruh terhadap karakter peserta didik. 
  4. Pengembangan nilai dan literasi moral dalam mewujudkan generasi berakhlakul karimah dilakukan MTs Al-Madani melalui berbagai keterampilan, di antaranya dengan cara keterampilan berfikir kritis, keterampilan berfikir kreatif, kerampilan berkomunikasi dengan jelas, dan keterampilan menyimak. 
  5. MTs Al-Madani sebagi sebuah lembaga pendidikan merencanakan program pendidikan nilai untuk mewujudkan generasi berahlakul karimah, yaitu dengan memasukkan dalam pembelajaran ekstrakurikuler. Selain itu, proram yang dilakukan di madrasah yaitu terkait dengan karakter. Madrasah harus memiliki Budaya 5 S (senyum, salam, sapa, sopan, santun). Kemudian di kelas setiap memulai pelajaran pertama ada hormat bendera salam abita ( bita Abita Aku Bangga Indonesia Tanah Airku Merah Putih Ya) dipimpin ketua kelas selanjutnya menyanyikan lagu indoesia raya dari sentral. Ada kelas yang tidak ada bendera, perlu ditambahkan salam PPK (Cerdas Berkarakter Menyenangkan Luar Biasa Hebat). Pembiasaan lain yang dilakukan di MTs Al-Madani adalah pembiasaan salat dhuha, salat dhuhur berjamaah dan program literasi madrasah. 

 

D. DAFTAR PUSTAKA

  • Darmiyati Zuchdi, (2015), Pendidikan Karakter Konsep Dasar dan Implementasi di Perguruan Tinggi. Yogyakarta, UNY Pres.
  • Departemen Agama RI. (2008). Al Quran dan Terjemah. Bandung: Diponegoro.
  • Eliyanto. (2017). Pendidikan Aqidah Akhlak. Yogyakarta: Prodi MPI FITK UIN Sunan Kalijaga: Yogyakarta.
  • Handoko, Hani (2003), Manajemen. Yogyakarta: BPFE
  • Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, (2012), Pedoman Pembinaan Pendidikan Akhlak Mulia Siswa Melalui Pengembangan Budaya Sekolah. Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar
  • Mulyasa (2018), Manajemen Pendidikan Karakter, Jakarta, PT Bumi Aksara
  • Patton, Michael Quinn, (2006), Metode Evaluasi Kualitatif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Sudjana, HD (2004), Manajemen Program Pendidikan Untuk Pendidikan Non Formal dan Pengembangan SDM. Bandung: Falah Production.
  • Sufyarma (2003), Kapita Selekta Manajemen Pendidikan, Bandung: CV Alfabeta
  • Sugiyono, 2009, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Alfabeta.
  • Tilaar, H.A.R (2003). Manajemen Pendidikan Nasional Kajian Pendidikan Masa Depan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

 

Comments