![]() |
| Lee Jong Suk and Bae Suzy |
Dalam perkembangannya, drama korea mampu menghipnotis
para remaja indonesia, tak jelas kapan mulainya, hal itu mengalir begitu saja,
efeknya pun mulai dirasakan dari semakin banyaknya obrolan yang berbau korea.
Kebetulan
aku adalah salah satunya, walau sudah lumayan dewasa untuk dikatakan remaja, tapi masih oke lah untuk lebih terlihat muda, mengenal drakor mulai dari pasca operasi usus buntu
dan berlanjut kepemulihan bekas luka operasi, pemulihan yang diharuskan untuk
istirahat dirumah membuatku mencari sesuatu untuk mengurangi rasa bosan.
Suatu ketika, aku minta dicopy kan beberapa film dari laptop keponakan yang salah
satunya adalah drama korea. Kemudian oleh Syifa, teman di GenRe (generasi
berencana) merekomendasikan drakor yang berjudul “While Your Were Sleeping”,
bercerita tentang beberapa orang yang selalu bermimpi tentang kejadian-kejadian
dimasa depan, dan anehnya setiap mimpi itu pasti terjadi. Tak jarang
diantara mimipi yang mereka alami merupakan kejadian yang membuat orang lain celaka
bahkan terbunuh, bahkan dari beberapa mimpi itu melibatkan anggota keluarga,
teman bahkan mereka sendiri yang menjadi korban.
Dengan kemampuan yang
ganjil tersebut, mereka berusaha mencari cara agar bisa menyelamatkan yang akan
terbunuh, atau menangkap penjahat yang mencoba memanipulasi bukti agar mereka
terbebas dari jeratan hukum.
Lalu, apa hubungannya
dengan Tarekat Al-Qodiriyah? Film yang dibintangi oleh Suzy ini secara tidak
langsung bicara tentang usaha untuk merubah takdir, sejalan dengan Tarekat
Al-Qodiriyah dimana tarekat ini merupakan tarekat yang berpegang teguh pada doktrin bahwa segala
sesuatu tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan, itu artinya hukum sebab
akibat sangat dijunjung tinggi, segala sesuatu yang terjadi bisa dirubah oleh
manusia itu sendiri. Dalam kitab Al-Milal Wa An-Nihal pembahasan
masalah Qodariyah disatukan dengan pembahasan tentang
doktrin-doktrin Mu’tazilah, sehingga perbedaan antara kedua aliran
ini kurang begitu jelas, karena kedua aliran ini sama-sama percaya bahwa
manusia mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tindakan tanpa campur tangan
Tuhan.
Paham takdir dalam
pandangan Qodariyah bukanlah dalam pengertian takdir yang
umum dipakai bangsa Arab ketika itu, yaitu yang mengatakan bahwa nasib manusia
telah ditentukan terlebih dahulu. Dalam faham Qodariyah, takdir itu
adalah ketentuan yang diciptakan-Nya bagi alam semesta beserta seluruh isinya,
sejak azali, yaitu hukum yang dalam istilah Al-Qur’an adalah Sunnatullah.
Manusia harus bebas merdeka
menentukan nasibnya sendiri. Memilih amal yang baik atau yang buruk. Kalau Tuhan
itu adil mestinya Ia memberi pahala orang yang beramal baik dan menghukum orang
yang berbuat salah atau buruk.
Kalau Tuhan telah menentukan semua
nasib manusia sebelumnya, itu berarti Tuhan dzalim. Oleh karena faham atau
pendapat seperti itu berarti penentang terhadap keutamaan Allah SWT dan
menganggap Allah SWT sebagai sebab kejahatan-kejahatan amal manusia, sedangkan
Allah SWT mustahil melakukan kejahatan. Jadi, baik atau buruk adalah atas usaha
manusia itu sendiri.
Disamping itu, Tarekat
Al-Jabariyah sangat bertentangan dengan Tarekat Al-Qodariyah ini,
tarekat Al-Jabariyah menyebutkan bahwa perbuatan manusia telah
ditentukan oleh qadla dan qadar Allah SWT (Rosihon Anwar, Akidah
Akhlak, Bandung: Pustaka Setia, 2008 halaman 52-53), pembahasannya nanti tunggu
ada film korea lagi yang berhubungan dengan tarekat ini. Hmmm...

Comments
Post a Comment