Alhamdulillah
negara kita udah 71 tahun berdiri sendiri, hidup aman tanpa ada penjajah, dan tanpa
ada kerja paksa. Terkadang sebelum tidur aku suka berandai-andai jika
seandainya aku hidup di zaman itu, zaman yang belajar perang diharuskan,
kemudian sampai umurnya harus benar-benar perang, mungkin akan seru ketika
sampai masanya merdeka dan aku akan bercerita kepada generasi sekarang bahwa
dulu aku pernah berperang mengusir penjajah begini dan begitu, menembak kepala
mereka, menusuknya dengan bambu runcing, dan ketemu dengan gadis anak penjajah
yang cantik dan kubiarkan hidup, seru ya kelihatannya, tapi itupun kalau saat
perang aku hidup, tapi gimana kalau saat perang berlangsung aku masuk diantara
para pahlawan yang mati terbunuh oleh penjajah... yah ceritanya akan beda,
paling mentok aku akan ditanya oleh malaikat sebagaimana seharusnya. Tapi bagaimana
setelah terbunuh aku reinkarnasi, hidup kembali dizaman yang berbeda,
memulai kehidupan baru dan bahkan aku akan menceritakan bagaimana aku terbunuh
oleh penjajah-penjajah itu, bagaimana aku bersama teman-teman jong borneo
dikala itu mengusir penjajah dari tanah kalimantan ini. Dan pastinya saat ini
aku akan tua sekali. Yaudah lah ya aku belum mau jadi kakek-kakek.
Umur Indonesia sudah 71 tahun, itu artinya sudah 71 tahun yang lalu tragedi jajah menjajah itu tiada, sudah lama sekali ya.. jika diasumsikan sebagai manusia pada umumnya, diusia yang ke-71 pasti sudah sangat berpengalaman, sudah mempunyai tabungan hari tua, sudah sangat lihai dalam memberikan intruksi dan pasti bisa mengatur dan mengarahkan anak cucunya, hidupnya pasti sudah tak banyak pikiran lagi, sejahtera, damai karena anak cucu sudah bisa menjalani jalan hidupnya masing-masing, walaupun terkadang penyakit akan ramai juga menghampiri, pikun sudah pasti jadi teman sejawat, keriput akan menjadi bukti perubahan masa.
Tapi asumsi itu sepertinya tidak berlaku untuk negara kita tercinta ini, seharusnya diusia ke-71 sudah sangat berpengalaman tapi kok masalah terbesar bangsa ini dari dulu tetap sama, pencuri uang rakyat tetap ada, dan bahkan ditambah oleh rakyat mencuri uang rakyat, sangat sulit membedakan siapa yang mencuri uang siapa, siapa menipu siapa, yang ada hanya siapa yang mempunyai kesempatan dan siapa yang tertangkap karena kerakusan memakannya sendiri.
Seyogyanya tidak banyak pikiran lagi, sejahtera, damai anak cucu sudah bisa menjalani hidup nya sendiri, nyatanya kita masih punya hutang ya, nyatanya daerah-daerah tertinggal hanya bisa melihat kemajuan daerah lain melalui televisi, nyatanya anggaran infrastruktur sebagian besar hanya terserap di ibu kota, nyatanya guru-guru PNS bersedia ditempatkan di daerah hanya karena menggugurkan kewajiban dan mengambil prasyarat karena setelah sekian tahun disana akan bisa mengajukan pemindahan tempat tugas di tempat yang diinginkan yang pastinya menginginkan perkotaan.
Terbukti diusia yang ke-71 bangsa ini masih saja dihadapkan berjubel masalah.

Comments
Post a Comment