TIKA MENANG

Suatu siang disebuah arena pertandingan tamiya,  terlihat penonton bagitu ramai  karena pada hari itu adalah babak final, hanya ada empat peserta yang tersisa, masing-masing mereka tengah asyik memamerkan tamiya yang mereka miliki, semuanya buatan sendiri, karena memang seperti itulah persyaratan dan peraturan yang ditentukan oleh panitia pelaksana. Namun yang menarik, diantara empat peserta yang masuk final itu terdapat seorang peserta perempuan. Tika, demikianlah nama yang terlihat diatas saku sebelah kanan bajunya, mobilnya tak istimewa, dibanding semua lawannya mobilnya lah yang paling tak sempurna, banyak penonton yang menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil peserta lainnya. Yah, memang mobil itu tak semenarik yang lain, dengan bahan yang seadanya, sedikit hiasan lampu didepan, dan spare part yang juga tak secanggih lawan-lawannya, namun Tika sangat bangga dengan mobilnya karena itu adalah hasil dari karya tangannya sendiri.
Ketika pertandingan akan dimulai, semua peserta sudah bersiap-siap dengan tamiya berada ditangan, Tika melirik wasit dan berkata : “Pak, beri aku sedikit waktu untuk berdoa”, dengan bijaksana wasit mengizinkannya. Tika mengangkat tangannya dan menengadah, memajamkan mata dan terlihat komat-kamit dengan khusyu, sejenak kemudian matanya terbuka dan berkata “Ya.. aku siap !!!”
Dor….. tanda mulai sudah berbunyi, semua mobil meluncur dengan cepat, semua mata tertuju ke arena, semua peserta tampak cemas tak terkecuali Tika peserta perempuan satu-satunya. “ayo… ayo… cepat…cepat… kalahkan mereka” ujar penonton yang ada didekat arena, tak jelas mereka menjagokan peserta yang mana. Satu mobil sudah terpental pada awal pertandingan.
Satu pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish telah melambai karena putus tertabrak salah satu mobil diantara ketiga peserta. Sorak sorai penonton menyelimuti arena, Dan………satu mobil melenggang dengan gagah di urutan pertama, ia telah menjadi pemenang…. “yes…itu mobilku” gumam Tika dalam hati.
Saat pembagian hadiah tiba, Tika maju dengan tenang dan bangga, sebelum piala diserahkan, ketua panitia menyapa : “hei jagoan… pasti tadi kamu berdoa agar kamu menang, bukan ?” dengan percaya diri dan mata yang berkaca-kaca Tika tersenyum dan menjawab : ”bukan pak, bukan itu yang aku pinta kepada Tuhan. Sepertinya tidak adil untukku meminta kepada Tuhan supaya menolongku untuk mengalahkan orang lain, aku hanya memohon kepada Tuhan supaya tidak menangis, diberi ketegaran dan kekuatan ketika mobilku ditakdirkan untuk kalah”.

***
Kawan-kawan pembaca yang semoga bersyukur terhadap nikmat yang diberikan Tuhan hari ini, harus kita sadari bersama bahwa Tuhan terkadang tak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tapi percayalah Tuhan telah memberikan apa yang  kita butuhkan. Tokoh Tika dalam cerita diatas mengajarkan kepada kita bahwa kita tak perlu menzalimi orang lain sebelum memperoleh sebuah kemenangan dan kesuksesan yang diinginkan, karena fakta yang terlihat terlalu sering kita berdoa untuk sebuah kemenangan tanpa memperdulikan orang lain.  Ingatlah bahwa, berdoa bukanlah untuk berusaha mengubah keputusan Tuhan dan memaksaNya untuk memberikan apa yang kita inginkan seperti yang selalu kita lakukan selama ini, meminta agar Tuhan membuat kita berpangkat, meminta agar kita mendapatkan suami atau istri manusia terbaik di bumi ini, meminta agar menjadi orang terhormat, meminta menjadi hartawan, meminta untuk di luluskan dalam ujian nasional, dan sebagainya. Hingga Tuhan tak mengabulkan permintaan itu, karena sebenarnya ada suara dari langit yang tak terdengar oleh kita. “Setelah Aku kabulkan permintaanmu, terus untuk apa ??? ”
Mencari kedudukan dengan terlebih dahulu menfitnah orang lain, menumbangkan posisi teman sekerja karena ia menginginkan posisinya, mencari uang dengan terlebih dahulu membuat kwitansi-kwitansi palsu, menjadi guru yang menginginkan naik golongan tapi banyak korupsi waktu, ingin menjadi pedagang kaya namun mengurangi takaran timbangan, menginginkan nilai tinggi namun menyontek saat ujian berlangsung, mengapa semua itu harus dilakukan?, seolah kita tidak yakin bahwa Tuhan Maha melihat dan Maha Mengetahui.

Adik-adikku yang pada saat ini sedang dilanda kegalauan akan menghadapi ujian nasional tidak lama lagi akan dilangsungkan, memintalah kepada Tuhanmu dengan sebaik-baiknya permintaan, setelah itu pantaskan lah dirimu untuk menerima apa yang engkau minta, dan apapun keputusan Tuhan nantinya bersyukurlah karena pada dasarnya do’a itu memiliki tiga kemungkinan, pertama doa itu langsung dikabulkan, kedua di tunda, karena Tuhan mempunyai rencana yang surprise buat kita yang mungkin jika dikabulkan akan menimbulkan bahaya, ketiga diganti dengan sesuatu yang lebih hebat dari yang kita minta.

Dengan demikian, mari kita mengingat bahwa Rasulullah pernah berkata dalam sebuah hadits qudsi bahwa sesungguhnya Allah swt berfirman: "Aku sebagaimana prasangka hambaku kepada-Ku…………"[HR.Tirmidzi]



Comments

Post a Comment