Sebuah pulau kecil yang jauh dari keramaian, namun kehidupan berbagai makhluk didalamnya sangat tentram dan damai, hingga suatu ketika tiba-tiba banjir besar datang dan akan menenggelamkan pulau itu beserta penduduk yang ada didalamnya. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri, tetapi seorang wanita karena lemah dan tak sekuat yang lain tertinggal dan kebingungan untuk mencari pertolongan sementara air semakin naik dan membasahi kakinya. Tak lama kemudian ia melihat sebuah perahu, ternyata itu perahu miliknya kekayaan. “Kekayaan… kekayaan.. tolong aku..!!!” teriak wanita tadi.
“aduh, maaf nona,tidak ada lagi tempat untukmu, perahuku terlalu penuh dengan harta benda yang akan kuselamatkan, aku tak dapat menolongmu” ujar kekayaan. Tak lama kemudian lewat lah kegembiraan dengan perahunya, si wanita berteriak kembali, tapi karena kegembiraan terlalu gembira menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan si wanita tadi. Air semakin tinggi, hingga sampai sebatas perut kemudian lewatlah kecantikan sambil mengayuh perahu kesayangannya. ”kecantikan, bawalah aku bersamamu” teriak si wanita. “aduh nona, kamu basah dan kotor, aku tak bisa membawamu bersamaku, kamu akan mengotori perahuku yang cantik ini” ujar kecantikan, Wanita itu sangat sedih mendengarnya. Ketika itu lewatlah kesedihan yang dengan tenang mendayung perahunya. Sambil menangis si wanita tadi memanggil kesedihan “kesedihan… kesedihan kamu pasti akan menolongku” kata si wanita tadi. ”maaf nona, aku sedang bersedih, aku ingin sendiri untuk saat ini”. Jawab kesedihan sambil berlalu mengayuh perahunya. Wanita itu semakin sedih dan putus asa, ia merasakan air semakin naik dan akan menenggelamkannya.
Pada saat kritis seperti itu terdengarlah suara yang terdengar agak sedikit parau tapi masih sangat jelas untuk didengar “nona ! mari naik keperahuku....” si wanita menoleh kearah sumber suara dan melihat seorang tua dengan perahunya, cepat-cepat wanita itu naik keatas perahu tepat sebelum air meneggelamkannya.
Dipulau terdekat, orang tua tadi menurunkan si wanita dan segera pergi. Pada saat itu si wanita baru sadar bahwa ia tidak tau siapa orang tua yang telah menyelamatkan jiwanya. Bergegas Ia menemui salah satu penduduk pulau itu untuk menanyakan siapa sebenarnya orang tua tadi. “oh, orang tua tadi berasal dari negeri hati,ia bernama kasih sayang”.
****
Kasih sayang, kata yang enak didengar, didambakan oleh setiap orang yang menginginkan kehidupan yang hakiki, tanpanya hidup akan terasa gersang dan hambar, tak sampai disitu saja berapa banyak mereka yang berhasil melejitkan potensi yang ada pada pribadinya karena didampingi kasih sayang oleh orang sekitar yang berhasil menguatkannya, tanpanya kita tak akan sanggup menerjang kejamnya dunia, tanpanya pula hidup tak akan terlihat bermakna dan hanya kasih sayang lah yang bersedia menyelamatkan si wanita dari banjir besar yang akan menenggelamkannya. Namun kini seiring semakin tuanya dunia, semakin modernnya perkembangan zaman pengertian kasih dan sayang mulai tergerus, tergeser, dan semakin sempit dari makna sesungguhnya, kasih sayang yang seharusnya dipakai sebagai solusi dalam perpecahan umat dan berbagai penindasan, kasih sayang yang seharusnya dipakai oleh semua aparat negara dalam melindungi semua rakyatnya, bukan hanya menyayangi dan mengasihi mereka yang punya jabatan dan uang. Praktek-praktek yang seperti itu memang bukan rahasia umum lagi, belajar dari kasusnya makelar pajak Daeng Gayus Tambunan yang dengan bebasnya pergi kemana saja ia inginkan walaupun statusnya pada saat itu masih menjadi tahanan.
Terlepas dari kontroversi merayakan hari Valentine bagi kita yang berstatus masih menganut agama islam dan menjadi umatnya Nabi agung Rasulullah Muhammad SAW, kita wajib menebar kasih sayang kapan, dimana, dan kepada siapapun juga, termasuk juga kepada alam dimana tempat kita berpijak. Rasulullah katakan dalam sebuah hadits bahwa “Perumpamaan orang mukmin didalam cinta mencintai, kasih mengasihi dan sayang menyayangi, adalah bagaikan satu tubuh, manakala satu anggotanya menderita sakit, maka seluruh anggota badannya terasa demam dan tidak bisa tidur” (HR.Muslim). Ironisnya kini terkadang cara kita untuk menebar kasih sayang tidak sesuai dengan koridor yang sesungguhnya. Kasih sayang yang seharusnya melahirkan kedamaian, kesejahteraan dan ketentraman hidup yang akan meninggikan kualitas pribadi yang kita miliki terkadang malah akan menyengsarakan jiwa dan jauh akan kesejahteraan maupun ketentraman. Coba lihat mereka yang terlalu vulgar dalam pacaran yang katanya berlandaskan kasih dan sayang setelah putus atau menemukan suatu masalah akan bermusuhan dan membenci satu sama lain, dua orang sahabat karib yang menyukai seorang wanita yang sama dan kemudian bersaing untuk mendapatkan cinta si wanita kemudian yang satu kalah dan pada akhirnya tak bersahabat lagi dan menganggapnya menjadi seorang musuh, belum lagi mereka yang katanya sangat mengagung-agungkan kasih sayang terpaksa menikah karena "sesuatu hal yang telah terjadi" hingga ia dicap sebagai penzina dan cambuk 100 kali lah yang pantas untuknya (QS. An-Nur : 2). Melihat berbagai fenomena tersebut, timbul pertanyaan besar dibenak kita haruskah kita yang diwajibkan menebar kasih sayang tetapi malah menjadikan kita bermusuhan dan hingga akhirnya menjadi manusia yang dipandang rendah dimata Tuhan.
Kalau begitu berkasih sayang lah tapi jangan pernah kehilangan kemuliaan dirimu dan jangan pula mengkambinghitamkan cinta dan kasih sayang untuk melakukan sesuatu yang akan merendahkan derajat dan kualitas pribadimu dimata Tuhan.


kasih sayang yang nyata adalah kasih sayang antara manusia dengan tuhannya.
ReplyDeleteDalam...
ReplyDelete