Suatu hari Si Badrun bepergian melintasi sebuah gurun. Tenggorokannya kering dan ikat pinggangnya melorot kebawah pinggulnya. Berjam-jam lamanya ia tidak makan. Akhirnya dikejauhan, terlihatlah olehnya seorang laki-laki yang sedang menikmati makan siangnya di bawah sebuah batu besar. Semangat si badrun segera bangkit. Segera dia duduk dibawah keteduhan batu, disamping laki-laki tadi.
"Dari mana asalmu?" Tanya laki-laki itu
"Dari desa asalmu juga” Kata si Badrun ramah
“Owh_ kebetulan sekali ya, Ceritakan tentang istriku ” kata si laki-laki
“Gemuk dan sehat bagaikan seekor bebek” Jawab Badrun sekenanya
“Dan Imam putraku?” Tanya laki-laki itu lagi
“Dikedai kopi mengalahkan kawan-kawannya bermain dadu” kata badrun
“Dan untaku?” Tanya laki-laki itu.
“Begitu gemuk hingga nyaris meletus” jawab di badrun meyakinkan
“Bagaimana dengan anjingku?” tanyanya lagi.
“Siaga sebagaimana biasanya” jawab badrun
Sambil menyuap sepotong makanan dia bertanya lagi. “Dan rumahku?”
“Bagaikan sebuah benteng” jawab Badrun sambil melirik makanan si laki-laki itu.
Karena merasa puas laki-laki itu terdiam dan kembali menikmati makanannya. Si badrun menunggu penuh harap namun laki-laki itu tidak mengajaknya makan. Tiba-tiba si badrun melompat bangun.
Mau kemana kamu tergesa-gesa begitu? Tanya laki-laki itu heran.
Aku harus kembali kedesa. Karena anjingmu mati. Para perampok meraja lela.” Jawab badrun dengan wajah penuh serius
“Anjingku mati?????”
“Ya…….”
“Bagaimana dia mati?”
“Dia pasti telah makan terlalu banyak daging untamu”
“Untaku mati?”
“Ya !!"
"Bagaimana dia mati?”
"Bagaimana dia mati?”
“Ia tersandung diatas mayat istrimu”
“Istriku mati?”
“Ya …!!!“
“Bagaimana dia mati?”
“Karena sedih meratapi kematian Imam putramu”
“Putraku mati?”
“Ya !”
“Bagaimana dia mati”
“Dia terkubur dibawah reruntuhan ketika rumahmu ambruk”
Mendengar berita itu wajahnya berubah, matanya memerah dan berlari secepat mungkin menuju desanya. Sementara itu, si Badrun menarik keatas lengan bajunya dan berkata “Allahumma bariklana fimaa razaqtana, waqina ‘azaa bannaar…”
****
Makan, setiap orang butuh, bahkan setiap makhluk yang menginginkan kehidupan membutuhkannya, terkecuali makhluk halus wallahu’alam..
Berbagai macam cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkannya. Berbagai macam profesi pula yang dilakoni, tegantung minat dan skill yang dimiliki. Manusia sangat membutuhkan makanan, sebab makanan sangat berdampak kepada kesehatan jasmani, bahkan jika seseorang tidak makan maka kelangsungan hidupnya di dunia ini akan terancam walaupun sesungguhnya hidup dan mati manusia itu adalah tanggung jawab Tuhan. Oleh karenanya, manusia bekerja keras dengan mengerahkan segala kemampuannya, baik tenaga maupun pikiran untuk mendapatkan makanan. Namun Allah peringatkan dalam Surah Al-Baqarah 168 “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah syetan, karena sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”
Ilustrasi kisah Badrun diatas menggambarkan kepada kita begitu banyak hal yang bisa ditempuh untuk memperoleh makanan, termasuk memperolehnya dengan cara menipu. Kisah sederhana itu hanya contoh dari sebagian kecil dari praktek pencarian makan di bumi yang Allah hamparkan rizki ditasnya. Begitu banyak praktek-praktek yang berdalih hanya ingin untuk cari makan tapi justru keluar dari koridor yang sepatutnya dilakukan oleh mareka yang di KTPnya masih Islam. Ironisnya ada ungkapan “yang haram saja susah dicari apalagi yang halal”.
Rasulullah pernah bersabda yang diriwayatkan oleh At-Thabrani (Lihat Ad-durar Al-Mantsur fi Tafsir bil Ma’tsur Juz: II hal. 403). “Sa’ad bin Abi Waqash berkata: “Ya Rasulullah, do’akan kepada Allah agar aku senantiasa menjadi orang yang dikabulkan do’anya oleh Allah.”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan do’anya. Dan demi jiwaku yang ada di tanganNya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama 40 hari, dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba maka neraka lebih layak baginya.”
Kalau begitu

Comments
Post a Comment