MENJADI TUKANG PARKIR TUHAN



Disebuah area yang tidak begitu luas, terletak di belakang pasar tradisional di kota ini, diantara tebaran debu yang menyesakkan,
diantara decitan ban yang menggilas aspal jalan, ia duduk di deretan motor yang cukup rapi, bermacam-macam merk dan model, mulai dari motor baru sampai motor yang dulu pernah baru, namanya Endra, lengkapnya Endra Gunawan, anak-anak sering memanggilnya dengan Yong Gugun, Ia temanku semasa SMA dulu, tapi setelah kuliah kami tidak satu kampus, tapi kami masih dalam kategori mahasiswa bidang keguruan yang mungkin boleh dikatakan sebagai calon guru, calon pencetak generasi bangsa ini, Semoga.   Setelah pulang kuliah ia berganti profesi dari mahasiswa menjadi “Tukang parkir”, suatu profesi yang mungkin terlihat aneh bagi mereka yang sudah terbiasa mendapat kiriman tetap tiap bulannya atau bagi mereka yang sudah terbiasa hidup berkecukupan. Tapi tidak untuknya yang ingin belajar untuk suatu kemandirian. Sering Saya katakan kepada Endra, kalau seandainya ada sebuah kompetisi siapa yang paling banyak mempunyai motor, mungkin pemenangnya adalah dia, memang itulah faktanya, menjadi tukang parkir punya banyak motor, model apapun ia miliki, merek apapun ia punya, tapi konsekuensinya ketika sipemilik asli ingin mengambilnya kembali, ketika itu juga motor akan dibawa pergi, dan ia harus ikhlas melepaskannya, karena memang hanya menitipkan. Walau demikian tukang parkir mempunyai tanggung jawab besar dalam menjaga apa yang dititipkan kepadanya, sedikit terdapat goresan, sedikit ada cacat, maka tukang parkir lah yang disalahkan, apalagi motor itu sampai hilang. Menjadi tukang parkir memang terlihat mudah namun mempunyai tanggung jawab besar dalam pengerjaannya.

****
Pada dasarnya kehidupan ini tak terlalu berbeda seperti tukang parkir, adanya sebuah kehidupan karena ada yang dititipkan oleh yang Maha Memiliki Segalanya kepada kita, dan dituntut untuk dijaga, dikelola dan dilestarikan.  Dengan semua yang dititipkanNya itu mulailah kita sebagai manusia mengemban amanah dan tanggung jawab besar sebagai wakil Tuhan (baca : Khalifah) dimuka bumi ini, yang awalnya sempat disangsikan oleh malaikat dalam dialognya dengan Tuhan dalam surah Al-Baqarah : 30, Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” namun Allah membela kita (manusia): "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
Sebagai manusia kita dituntut untuk mempergunakan apa yang dititipkanNya  sesuai dengan fungsinya dengan melakoni tugas kita sebagai manusia (sebagaimana yang pernah saya ungkapkan ditulisan sebelumnya : belajar dari kekalahan Team Garuda) bukankah fungsi kehidupan ini hanyalah untuk beribadah kepadaNya (QS. Adz Dzariyat: 56 ). Silahkan bangga dengan harta itu, atau dengan rupa yang elok itu, tapi ingat ketika sipemilik asli mengambil nyawa yang dititipkannya itu maka harta akan menjadi milik ahli waris dan rupa yang elok akan menjadi milik ulat tanah. Apapun bentuknya semua itu hanyalah sebuah titipan, yang suatu saat nanti akan diambil kembali oleh yang Maha Memiliki segalanya. Namun tidak sekedar diambil begitu saja, melainkan akan kita pertanggung jawabkan keadaannya. 

Kalau begitu mari kita menjadi “Tukang Parkir” Tuhan yang mempunyai tanggung jawab besar dalam menjaga apa yang dititipkannya kepada kita yang kelak akan kita pertanggungjawabkan keadaannya dan mengikhlaskannya ketika Ia akan mengambilnya kembali.


 

Wallahu'alam__ 

Comments