Disebuah area yang tidak begitu luas, terletak di belakang pasar tradisional di kota ini, diantara tebaran debu yang menyesakkan,
****
Pada dasarnya kehidupan ini tak terlalu berbeda seperti tukang parkir, adanya sebuah kehidupan karena ada yang dititipkan oleh yang Maha Memiliki Segalanya kepada kita, dan dituntut untuk dijaga, dikelola dan dilestarikan. Dengan semua yang dititipkanNya itu mulailah kita sebagai manusia mengemban amanah dan tanggung jawab besar sebagai wakil Tuhan (baca : Khalifah) dimuka bumi ini, yang awalnya sempat disangsikan oleh malaikat dalam dialognya dengan Tuhan dalam surah Al-Baqarah : 30, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” namun Allah membela kita (manusia): "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
Sebagai manusia kita dituntut untuk mempergunakan apa yang dititipkanNya sesuai dengan fungsinya dengan melakoni tugas kita sebagai manusia (sebagaimana yang pernah saya ungkapkan ditulisan sebelumnya : belajar dari kekalahan Team Garuda) bukankah fungsi kehidupan ini hanyalah untuk beribadah kepadaNya (QS. Adz Dzariyat: 56 ). Silahkan bangga dengan harta itu, atau dengan rupa yang elok itu, tapi ingat ketika sipemilik asli mengambil nyawa yang dititipkannya itu maka harta akan menjadi milik ahli waris dan rupa yang elok akan menjadi milik ulat tanah. Apapun bentuknya semua itu hanyalah sebuah titipan, yang suatu saat nanti akan diambil kembali oleh yang Maha Memiliki segalanya. Namun tidak sekedar diambil begitu saja, melainkan akan kita pertanggung jawabkan keadaannya.
Kalau begitu mari kita menjadi “Tukang Parkir” Tuhan yang mempunyai tanggung jawab besar dalam menjaga apa yang dititipkannya kepada kita yang kelak akan kita pertanggungjawabkan keadaannya dan mengikhlaskannya ketika Ia akan mengambilnya kembali.


Comments
Post a Comment