Belajar Dari Kekalahan Team Garuda


Beberapa minggu terakhir penduduk Negara-negara ASEAN dan negeri ini pada khususnya disibukkan dengan pembahasan tentang sepak bola memperebutkan piala AFF SUZUKI 2010. Yang awal mulanya didirikan pada tahun 1984 oleh Thailand, Filipina, Brunei, Singapura, Malaysia, Indonesia, Vietnam, Kamboja, Laos dan Myanmar. yang kemudian Pada tahun 1996, AFF menyelenggarakan Kejuaraan Sepak Bola ASEAN pertama (waktu itu bernama "Piala Tiger") dan sejak saat itu terus diselenggarakan secara rutin. Saat ini, piala AFF masih terus berkembang dengan bergabungnya Timor Leste pada tahun 2004 dan Australia menjadi undangan setelah bergabung dengan AFC pada tanggal 1 januari 2006. Dan harus kita banggakan tahun 2010 Timnas Indonesia yang akan berlaga di Final melawan Timnas Malaysia setelah Mengalahkan Timnas Filipina, hal itu diraih lewat pukulan keras dari kaki kiri Cristian Gonzales pemain yang bernomor punggung 9 itu dengan skor 1-0, suatu kemenangan yang cukup tipis untuk berlaga di Final Leg pertama di Stadion Nasional Bukit Jalil Kuala Lumpur. Namun fakta membuktikan, banyak sekali kecurangan-kecurangan yang terjadi didalamnya. Terlepas dari kecurangan-kecurangan yang Malaysia buat, mulai dari sinar laser yang mengganggu penglihatan, terutama sipenjaga gawang Markus Haris Maulana (Markus Horison), petasan yang sering mengejutkan diarea gawang Timnas Indonesia, hingga gatal-gatal yang dirasakan Kiper ketika latihan, yang kemudian Tim dokter dan asisten pelatih menduga gatal-gatal berasal dari serbuk yang ditebarkan di gawang (Metrotvnews.com),
Disamping itu semua banyak pelajaran yang mesti kita ambil dari pertandingan ini, dari kekalahan Tim Garuda. Beberapa pelajaran itu mengapa Indonesia kalah dalam pertandingan akan penulis paparkan berikut ini.
 
Pertama, Karena ada pertandingan leg kedua
Alasan yang pertama ini adalah mengenai mindset berfikir. Kita sudah pernah menang melawan Malaysia dengan jumlah goal yang cukup banyak, disamping itu ini hanya pertandingan leg pertama, toh masih ada lagi pertandingan di leg yang kedua, kalah disini kita masih punya kesempatan untuk menjadi juara dipertandingan berikutnya. Namun tidak demikian, Stadion Nasional Bukit Jalil Kuala Lumpur Malaysia menjadi saksi bisu pada saat itu, pada menit ke-53 pemain asal Malaysia bernomor punggung 10, Mohd Safee bin Mohd Sali mencetak goal yang pertama kegawang Markus Haris Maulana, kemudian Mohd Ashari menambah kemenangan dan kemudian Mohd Safee kembali menambahnya menjadi 0-3 untuk kekalahan Indonesia, dan menjadi kan PR besar bagi Indonesia untuk menjuarai ajang ini. 
Sama halnya dengan kehidupan ini. Perlakuan manusia terhadap kehidupannya adalah bagaimana ia memandang kehidupan itu sendiri, cara berfikir, ya itu dia. Ingatkah anda dengan Julius Caesar, komandan perang yang berhasil merebut pantai Brittania karena strateginya yang cukup unik. Dalam catatan sejarah, tercatat bahwa ketika berhasil mendaratkan pasukannya pada tengah malam yang dingin, sang komandan berdiam diri sejenak, sementara pasukannya sibuk merapatkan dan menyembunyikan perahu-perahu yang sudah mereka tumpangi, mereka berfikir, setelah pertempuran selesai akan kembali lagi kekapal induk dengan menggunakan perahu tersebut. Namun betapa kagetnya seluruh pasukan begitu mendengar peritah sang komandan, “Bakar semua perahu yang sudah kalian daratkan!” sebagai pasukan yang taat kepada komandan, mereka pun dengan ragu-ragu akhirnya membakar semua perahu sampai hangus, akhirnya, semua pasukan bertempur habis-habisan, karena berfikir tidak akan kembali lagi, jadi pilihannya hanya ada dua, perang menang dan mati ditempat. Setidaknya mindset inilah yang harus kita miliki Jika sudah memulai sesuatu padamkan semua kemungkinan -kemungkinan untuk kembali. Beberapa daya tarik yang mampu menarik kita untuk kembali adalah keterikatan pikiran dan nostalgia kesuksesan masa lalu dan fasilitas yang mungkin masih terkenang dengan segala kemudahannya. Daya tarik yang demikian membuat pikiran kita yang sedikit banyak akan menciutkan nyali untuk menerima tantangan yang ada dimata kita. Itulah sebabnya, kata-kata yang sering muncul dalam kondisi demikian antara lain; “dulu” atau “seandainya”.

Kedua, Iming-iming hadiah untuk si pencetak gol.
Seseorang yang sangat berpengaruh di Tim ini sempat berujar didepan para wartawan. Siapa yang berhasil mencetak goal dipertandingan nantinya, akan memperoleh hadiah dari saya (sembari menyebutkan sejumlah angka rupiah).
Alasan yang kedua berkaitan dengan etos kerja. Terkadang pekerjaan atau apapun yang kita lakukan, demi mencapai sebuah target dengan jumlah hasil yang cukup besar (gaji) membuat kita lupa akan kerja sama, membuat kita lupa kalau itu akan menurunkan kepantasan pribadi kita untuk menang. Sukses dalam bekerja bukan dilihat dari berapa banyak uang yang telah diperoleh dan yang akan diperoleh, Sukses dalam bekerja juga bukan dilihat dari seberapa tinggi jabatan yang telah dicapai. Jika bekerja semata-mata untuk uang dan jabatan, maka hal ini akan menurunkan nilai hidup yang dijalani. Sukses berkerja berarti sukses menjalani apa yang sedang dikerjakan baik suka maupun duka. Bukankah tujuan kita hidup didunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah SWT?. Yang terpenting adalah Bagaimana kita menjalani setiap pekerjaan itu dengan menghadirkan ibadah didalamnya.
Kedua alasan ini mungkin cukup untuk sedikit membuka mata kita dan bercermin terhadap pribadi yang Allah Sayangi menuju perbaikan yang lebih kompleks.
Sekian_

Comments